Dikelola oleh Humas

Langkah Pertamaku Memilih Kuliah di IAI Hidayatullah Batam

Dari Scroll Google, STIT Hidayatullah Batam hingga Menjadi Institut Agama Islam Hidayatullah Batam dan Mimpi yang Tumbuh Semua ini berawal dari pencarian sederhana bukan pencarian jiwa, tapi pencarian di Google. Kala itu aku sedang duduk sendiri, bertanya dalam hati, “Aku mau kuliah di mana ya?” Ingin rasanya menimba ilmu di tempat yang tak hanya mengajar teori, tapi juga menanamkan nilai, membentuk jiwa.

Kemudian jari-jari ini mulai mengetik: “Kampus Islam di Batam yang fokus pada pendidikan dan dakwah.” Dari banyak hasil pencarian, satu nama yang muncul dengan getaran berbeda: STIT Hidayatullah Batam. Aku klik. Kubaca. Kulihat beberapa dokumentasi. Ada yang sederhana, tapi juga terasa kuat dalam ruhnya. Sebuah Sekolah Tinggi yang belum besar, tapi jelas tujuannya. Pendidikan Islam. Pembinaan karakter. Dakwah.

Alhamdulillah harapan.  Aku mendaftar. Saat itu belum banyak yang tahu tentang kampus ini. Tapi aku percaya, tempat ini akan menjadi ladang tumbuh bagi siapa pun yang ingin belajar bukan hanya dari buku, tapi juga dari kehidupan.

Hari-hari awalku di kampus ini penuh warna. Bangunan mungkin belum sempurna. Fasilitas sederhana. Namun semangat orang-orang di dalamnya sangat luar biasa. Dosen-dosen yang penuh dedikasi. Teman-teman yang datang dari latar belakang berbeda. Kami tertawa bersama, belajar bersama, berdebat, bercanda, bahkan terkadang berbeda pendapat tapi itulah yang justru memperkaya.

masih teringiang dengan jelas, beberapa dari mereka (maahsiswa)  selalu datang dengan senyuman lebar meskipun tugas menumpuk, dompet tipis, atau masalah di rumah. Tapi semangat mereka tidak pernah surut. Justru dari merekalah aku belajar: Bahwa belajar itu bukan hanya soal pintar, tapi tentang kuat, sabar, dan tetap ceria.

Waktu berjalan, dan STIT Hidayatullah Batam berubah menjadi sesuatu yang lebih besar: Institut Agama Islam Hidayatullah Batam. Kami semua bersyukur. Nama itu membawa harapan baru. Lebih banyak program studi. Lebih banyak kesempatan. Lebih besar tanggung jawab. Dalam titik ini, mimpiku tumbuh. Aku ingin mendirikan lembaga pendidikan Islam tempat di mana ruh yang kutemukan di sini bisa tersebar lebih luas.

Tempat anak-anak diajarkan Al-Qur’an, logika, kasih sayang, dan peradaban. Tempat pendidikan bukan hanya membentuk kepala, tapi juga hati. Dan aku tahu, aku tidak sendiri. Aku bertemu orang-orang hebat di sini.

Para dosen, teman-teman seperjuangan, mereka yang diam-diam menyimpan mimpi besar di balik tawa dan keletihan mereka. Kami semua punya mimpi yang berbeda. Tapi kami berjalan di jalan yang sama. Jalan ilmu. Jalan dakwah. Jalan untuk membangun umat.

Siapa sangka langkah kecilku, dari sebuah scroll di Google, membawaku ke tempat ini. STIT Hidayatullah Batam yang kini menjadi Institut Agama Islam Hidayatullah Batam, bukan hanya kampus tempatku kuliah. Ia adalah tempat lahirnya cita-cita. Tempat tumbuhnya ukhuwah. Tempat bermulanya perjalanan untuk membangun sebuah lembaga pendidikan, bersama orang-orang hebat, dan teman-teman yang selalu ceria meski hidup tak selalu mudah.

Dan insyaAllah, dari sini, peradaban itu akan dimulai.

Bandar Dunia Madani 17 Juli 2025

Share the Post: