
BATAM (instituthidayatullah.ac.id) — Diskusi bertajuk “Sistematika Wahyu (SW) dan Tantangan Dialektika Zaman” baru saja digelar dengan menghadirkan dua panelis utama, Ust. Muhammad Hasan, Lc., dan Ust. Dr. Muhammad Ramli. Serta Key Note Ust Drs. Nursyamsah, (Senin, 02/03/2026) Diskusi ini menyoroti bagaimana SW yang selama ini diyakini sebagai arsitektur peradaban perlu segera direposisi dari sekadar kurikulum internal organisasi menjadi tawaran teori peradaban universal.
Diskusi yang berlangsung di ruang rapat kampus satu Hidayatullah Batam ini memluai dengan Paradoks Praktik dan Narasi dalam sesi pembukanya, serta menyoroti sebuah paradoks historis-intelektual. Meskipun SW telah menjadi praktik hidup yang kuat bagi para kader (internalisasi praksis), gagasan ini dinilai masih lemah dalam artikulasi naratif di ruang publik nasional.
“Terjadi kesenjangan. Praktik berjalan, namun dokumentasi dan teori tertinggal. Padahal di zaman narasi saat ini, tanpa publikasi dan riset, sebuah ide dianggap tidak eksis,” ungkap Nursyamsah dalam diskusi yang dimulai pukul 08:30 sampai menjelang zuhur ini.
Dalam paparan mereka para panalesi Ust. Muhammad Hasan dan Ust. Dr. Muhammad Ramli membedah problematika bahasa yang menjadi hambatan utama. Terminologi Qur’ani seperti manhaj, tanzil, tilawah, dan marhalah mengalami kesulitan saat harus ditranslasikan ke ruang akademik sekuler maupun generasi digital.
Diskusi menyepakati pentingnya membangun jembatan epistemik melalui dialog intensif dengan filsafat ilmu serta menjadikan SW sebagai respons terhadap krisis post-truth kemudian mengukuhkan SW sebagai epistemologi tauhid.
Adapun di antara strategi rekontekstualisasi solusi untuk era modern salah satu poin krusial yang dibahas adalah bagaimana nilai-nilai dalam surah-surah awal wahyu dapat menjawab tantangan modern secara spesifik, dijelaskan bahwa Al-Alaq sebagai solusi krisis epistemologi di era hoaks. Al-Qalam menjadi model integritas dan resiliensi, Al-Muzzammil menjadi fondasi ketahanan spiritual di tengah fenomena burnout masyarakat modern, Al-Muddaththir sebagai teori transformasi sosial dan Al-Fatihah sebagai grand desain peradaban yang mencakup teologi dan metodologi hidup.
Menutup diskusi, para panelis menekankan bahwa SW harus siap menantang dominasi teori Barat seperti liberalisme dan postmodernisme melalui penguatan ekosistem intelektual seperti jurnal dan think tank.
Kesimpulan utama dari pertemuan ini adalah penegasan bahwa jika Sistematika Wahyu benar-benar merupakan arsitektur peradaban, maka ia tidak boleh lagi menjadi “rahasia dapur”. SW harus berani hadir sebagai wacana yang hidup, siap diuji secara akademik, dan terbuka terhadap kritik konstruktif dalam dialektika zaman.

Diskursus ini dihadiri oleh civitas akademika IAI Hidayatullah Batam, Pengurus Yayasan, Kepala-kepala unit yang ada pada seluruh kampus di bwaha naungan Yayasan serta para murabbi halaqah. Acara ini diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan SW dalam kehidupan berjamaah pa lingkup Hidayatullah Kepulauan Riau./